Breaking News

Kain Besurek Terancam Bekarek



Salah satu karyawan Butik Atiq tengah membuat pola baju berbahan baku kain besurek

Industri dan pengrajin kain besurek kini terancam "bekarek" alias punah. Seiring berjalannya waktu bila tak ada upaya dan komitmen serius melestarikan karya seni kain besurek oleh Pemerintah Daerah setempat melalui Dinas terkait maka, bukan tidak ancaman warisan seni budaya kain besurekasli Bengkulu kian nyata di depan mata kita nantinya. 

Ada sejumlah alasan yang cukup realistis menyikapi nasib kain besurek Bengkulu yak tak sepopuler batik asal jawa dan daerah lainnya!. Padahal, dari sisi ciri khas atau keunikan dan kualitas, kain besurek dengan batik lainnya jelas tidak kalah. Namun, itu tidak cukup karena banyak masyarakat diluar Bengkulu termasuk masyarakat lokal kurang meminatinya. Berbagai faktor dan kendala dihadapi pengrajin dan pelaku usaha kain besurek Bengkulu sudah rasakan sampai saat ini hingga nanti.

Pertama, masih rendahnya rasa cinta masyarakat asal Bengkulu terhadap seni budaya batik tulis kain besurek. Akibatnya, sejumlah pengrajin dan pelaku usaha batik tulis kain besurek di kota Bengkulu mengalami penurun populasi karena peluang bisnis menunjukkan trend tidak sehat. Hal itu kemudian membuat profesi sebagai pengrajin batik tulis besurek kurang menjanjikan lagi. 

Beberapa gerai sentra oleh-oleh Bengkulu Jalan Sukarno Hatta Kelurahan Anggut Atas Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu mulai membatasi jumlah batik tulis kain besurek karena sepi. Keberadaan pelaku usaha batik tulis kain besurek bisa dihitung. Produksinya pun hingga kini tidak bisa melayani dalam jumlah banyak. Pasar batik tulis kain besurek terpaku pada wisatawan atau tamu dari Dinas Instansi datang ke Bengkulu.

Pelaku usaha butik Atiq Opet sekitar kawasan Jalan Sukarno Hatta termasuk terkanal di Bengkulu karena sejak lama menjual produk batik tulis kain besurek dengan kualitas dan varian motif terbatas sehingga tiap hari butiknya selalu ramai dipadati pengunjung. Sementara, beberapa toko serupa akhirnya memilih menjual produk kerajinan tangan lain dan tetap menjal batik tulis kain besurek. 

Kini pengrajin batik tulis kain besurek yang menggeluti seni membatik tergolong langka. Beberapa pelaku usaha yang masih konsisten menjual produk batik tulsi kain besurek memberdayaan anak pelajar yang magang atau alumni SMK yang sebelumnya sempat menjadi peserta magang. 
 
Kedua, derasnya produksi batik printing dipasaran dengan aneka macam motif, bahan termasuk motif besurek menjadi predator yang mengancam kelangsungan industri kecil UMKM di Bengkulu. Pelaku usaha ini harus terus bertahan dengan ciri khasnya dengan produksi batik printing. Lantas muncul persoalan lainnya terkait, daya saing harga jual batik printing setiap potongnya dibandingkan dengan batik tulis kain mofit besurek secara perlahan meminggirkan perhatian masyarakat Bengkulu khususnya konsumen menengah kebawah.

Pelaku usaha secara hitungan bisnis jelas tidak mau mengambil resiko besar dalam menjual produknya termasuk stok batik tulis kain besurek yang sediakan. Pembatasan stok jadi cara menekan laju perputaran uang. Itu wajar terjadi, karena setiap hari peminat batik tulis kain besurek cenderung labil dan modal yang harus dikeluarkan setiap potong dengan kualitas terbaik cukup besar. Hadirnya batik printing motif besurek ini kemudian menjadi alternatif bagi pedagang sentra khas Bengkulu. Apalagi, batik printing motif kain besurek menawarkan banyak pilihan warna, motif, dengan harga yang terjangkau. 

Alhasil, perputaran uang penjualan batik printing setiap transaksinya cukup menggiurkan pelaku usaha, sehingga wajar saja bila disetiap gerai atau tokoh menyediakan aneka kain besurek printing ketimbang batik tulis kain besurek. Sebagai gambaran, harga jual batik printing motif besurek perpotongnya hanya ditawarkan berkisaran harga Rp 35 ribu hingga Rp 100 ribu setiap potong atau ukuran 1 baju. Sedangkan harga batik tulis kain besurek diwarkan mulai dari harga Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah setiap potong atau ukuran 2 meter. Hal inilah membuat pelaku usaha sentra oleh-oleh Bengkulu memilih menjual batik printing dalam jumlah banyak ketimbang batik tulis kain besurek.
 
Pengunjung yang datang ke sentra oleh-oleh khas Bengkulu ini kebanyakkan berasal dari kalangan PNS, guru dan pihak sekolah serta sebagian kecil masyarakat datang membeli batik kain besurek dengan berbagai pertimbang salah satunya soal harga. Bila di Bengkulu ada even besar skala Provinsi atau Nasional yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Bengkulu seperti acara Tabot atau evan Hari Pers Nasional (HPN) yang kala itu dihadiri Presiden SBY. Permintaan batik tulis kain besurek mengalami peningkatan cukup besar. Omset penjualan pedagang di sentra oleh-oleh khas Bengkulu berdampak positif. 

Sebaliknya, penjualan batik tulis kain besurek cenderung labil setiap hari terkecuali hari libur. Pada hari libur, pengunjung yang datang cukup banyak namun kuantitas belanja oleh-oleh mereka seperti batik tulis kain besurek tidak banyak. Pada hari biasa, bila ada pengunjung yang datang membeli batik maka biasanya mereka lebih condong memilih batik printing motif besurek ketimbang batik tulis kain besurek. Terkadang, ada pula konsumen yang datang membeli beberapa potong batik kain besurek untuk oleh-oleh tamu Kedinasan atau untuk pesta pernikahan kalangan menengah keatas.

Ketiga, persaingan pelaku bisnis kain batik yang masuk ke Bengkulu dalam jumlah besar dengan iming-iming keuntungan besar dalam setiap penjualan menjadi alasan tersendiri terhadap kelangsungan hidup pelaku usaha batik tulis kain besurek. Kemajuan ilmu dan teknologi ikut memengaruhi eksistensi batik tulis kain besurek. Kendati kini batik tulis kain besurek masih memiliki ciri khas salah satunya berbahan sutra yang tidak bisa ditiru batik printing namun bukan tidak mungkin dalam waktu singkat perkembangan teknologi bisa menciptakan batik besurek printing berbahan sutra. 

Keempat, kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin pesat khususnya penggunaan alat produksi kain dengan aneka motif setuju atau tidak bisa berdampak pada kelangsungan hidup pengrajin batik tulis kain besurek dan batik tulis lainnya. Jumlah produksi, waktu dan efisien kain bermotif bagi masyarakat menjadi alasan besar dalam memenuhi kebutuhan pasar.

Sampai saat ini pelaku usaha kecil dan pengrajin batik tulis kain besurek tak kunjung bertambah dan cenderung didominasi pelaku usaha lama yang tetap eksis. Sedangkan, pelaku usaha baru tidak mampu bersaing. Lalu, adanya pergeseran selera konsumen atau budaya konsumtif terhadap batik tulis kain besurek ke batik kain  besurek printing. Hal itu disebabkan karena daya jangkau masyarakat terhadap kebutuhan bahan kain batik besurek printing tidak kalah dengan kualitas motif yang ditawarkan bahkan kini batik printing mampu menghipnotis masyarakat Bengkulu. 

Pemerintah Daerah Bengkulu rupanya sejak lama telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 111 tahun 1992 tentang ketentuan pemakaian pakaian dinas pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Tingkat I Bengkulu. Pasal 1 butir (d) menyebutkan "Setiap hari sabtu seluruh pegawai negeri di Kotamadia Bengkulu diharuskan memakai pakaian kain besurek" sebagai upaya proteksi terhadap industrik batik tulis kain besurek. Namun itu tidak cukup membantu populasi pengrajin batik tulis kain besurek yang ada di Bengkulu karena dominasi batik printing.

Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas terkait telah membuat program pelatihan dan pembinaan terhadap para pengrajin dan pelaku usaha batik tulis kain besurek dalam mengembangkan usaha dan bersaing. Namun lagi-lagi, itu tidak mampu mendongrak populasi pengrajin dan pelaku usaha batik tulis kain besurek.

Kini, Pemerintah Provinsi Bengkulu menetapkan kegiatan Karnaval Batik Kain Basurek yang mulai dipopulerkan tanggal 11 November 2015 dan hari tersebut kini resmi dijadikan agenda rutin pemerintah setempat. Tujuan program tersebut tidak lain agar batik kain besurek ini tidak lain agar kelestariannya terjadi, sekaligus upaya menumbuhkan rasa cinta akan kebudayaan seni batik besurek dikalangan remaja dan pelajar. Hari Batik Nasional pun juga dilakukan Pemerintah Pusat setiap tanggal 2 oktober.

Pada prinsipnya tujuan pemerintah sudah tepat namun hal itu harus dilakukan secara konsisten dan dikemas dengan berbagai even besar Skala Provinsi. Sebagai contah, even atau kontes disain busana muslim atau busana lain dengan bahan dasar batik skala Nasional melibatkan disainer ternama. Kosep Kota Wisata yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Bengkulu Visit Bengkulu Wonderful 2020 diharap menjadi angin segar bagi pelaku usaha batik tulis kain besurek. Wisatawan menjadi target utama dalam menghidupkan usaha kecil batik tulis kain besurek. Kini kita menunggu sejauh mana nasib batik tulis kain besurek mampu bertahan terus ditengah ancaman tersebut.

Penulis: Dian M

Tidak ada komentar