Breaking News

Disperkan Rejang Lebong Ungkap Lambannya Pembagian Bibit Sapi Dan Kambing



Kabid Peternakkan Dinas Pertanian dan Peternakkan Rejang Lebong Provinsi Bengkulu Hendra Yani

REJANG LEBONG – Nampaknya para Kelompok Tani (Poktan) yang berhasil menerima program bantuan bibit ternak sapi dan kambing melalui APBD Provinsi Bengkulu harus bersabar lebih lama lagi. Pasalnya, program bantuan tersebut akan segera teralisasi sekitar bulan Desember mendatang dari batas waktu yang dijadwalkan semula.

Ditemui wartawan, (06 November 2017), Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperkan) Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, melalui Kabid Peternakkan, Hendra, menjelaskan keterlambatan pembagian program bantuan bibit ternak sapi Bali dan kambing sebanyak 18 ekor ini karena anggaran penunjang seperti, dana survey kepada kelompok, survey harga ternak dan lainnya, dari pusat melalui APBD Provinsi Bengkulu belum cair sehingga diprediksi baru akan dibagikan pada awal atau pertengahan bulan 12 (Desember) mendatang.

Mereka yang mendapatkan bantuan bibit sapi Bali dan kambing ini adalah Poktan yang sudah terlebih dahulu melalui tahapan seleksi administrasi dan verifikasi dari tim Provinsi Bengkulu. Sejauh ini sudah banyak Poktan yang memasukkan proposal bantuan tersebut namun kelaikan penerimaan bantuan itu harus sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan tim,” tegasnya.


Total anggaran yang dialokasi untuk program ini, lanjut dia, mencapai Rp 179 juta melalui APBN yang disalurkan kepada Pemda Provinsi melalui dinas terkait. Dari program ini diharapkan kepada Poktan yang berhak menerima dapat mengambangbiakkan secara baik. Semakin banyak ternak yang dipelihara maka program ketahanan pangan khususnya pasokkan daging lokal dapat terjaga. 

Setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidup dari ternak yang berhasil dikembangbiakkan," paparnya.


Berdasarkan data, jumlah total kelompok tani se Rejang Lebong ada 1.200an kelompok. Dari jumlah itu, terdapat 30 persen kelompok tani yang bergerak di bidang komoditi ternak dan sisanya disektor pertanian. Dari jumlah itu juga ada sekitar 30 persen ado yang masih aktif dan ada yang tidak serta ada yang telah teregistrasi.(TO)

Tidak ada komentar