Breaking News

Diduga Malpraktek, RSUD Kepahiang Resmi Dipolisikan



KEPAHIANG – Rumah Sakit Kepahiang Provinsi Bengkulu kini telah menjadi bahan pembicaraan heboh publik. Pasalnya, salah satu pasien, Fitria Donisa suami Melides warga Penanjung Panjang Atas Kecamatan Tebat Karai, yang melahirkan bayinya dalam kondisi kepala terputus, pada Jumat (2 Febuari 2018). Pihak keluarga pun kini tak terima dan menduga ada unsur malpraktek dalam proses kelahiran bayi tersebut dan telah membawa kasus tersebut kepada pihak Kepolisian setempat.

Ditemui wartawan RealitaPost.com diruang kerjanya, Direktur RSUD Kepahiang, dr. Febi Nur Sanda melalui Kabag Umum dan Kepegawaian, Fajri Fauzan, menuturkan pasien yang melahirkan dengan kepala bayi terputus tersebut mengidap kelainan yang disebut dengan kelainan koginital (Kelainan Bawaan) dan pasien juga menikah pada usia cukup muda, yakni 17 Tahun dan mengidap penyakit eklamsi (darah tinggi disertai dengan kejang). Saat di ruang Operasi bayi tersebut memiliki kelainan, meliputi perut besar, kepala kecil sehingga kelahiranya tidak sempurna.
“Bayi yang dikandung pasien masih berumur 21 minggu (5 Bulan) dapat dikatakan lahir secara prematur, biasanya apabila bayi yang lahir secara prematur dapat melahirkan dengan mudah dan normal, tetapi ternyata saat bayi dipegang badannya langsung putus,” jelasnya.
Lanjut Fajri, terkait keluarga korban melaporkan pihak RSUD Kepahiang ke pihak Polisi, ia hanya dapat mengatakan silahkan saja, tinggal proses hukum yang akan membuktikan.

Sementara itu, Mertua korban, Sofiansyah menjelaskan korban masuk RSUD pada dini hari, sekira pukul 03.00 WIB. Saat itu, kandungan diperiksa dengan USG kemudian pihak keluarga korban diminta menanda tangani surat pernyataan untuk persiapan operasi.  

Namun, pukul 12.00 WIB bayi dilahirkan tanpa operasi dengan keadaan kepala terputus dan badan masih tertinggal di rahim ibunya. Kemudian sekira pukul 15.00 WIB sang ibu barulah dilakukan operasi untuk mengeluarkan badan bayi yang telah terputus dari kepalanya. Saat proses persalinan, ada 5 orang tenaga medis yang melakukan persalinan, diantaranya 4 Bidan dan 1 orang Doktor. Sedangkan suami korban ikut menemani sang istri saat dilaksanakan persalinan.
"Kami telah melaporkan kasus ini kepihak kepolisian, dan hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak RSUD Kepahiang terkait musibah yang menimpa kami ini,” bebernya.
Bayi yang terputus kepalanya tersebut pun telah dilakukan visum oleh pihak Kepolisian Kepahiang dan dalam proses pelidikan. Sofiansyah mengharapkan, pihak RSUD Kepahiang dapat bertanggung jawab, dan merasa mengakui kelalaian yang mereka lakukan. Bayi malang tersebut kini telah dimakamkan pihak keluarga Jumat (2/2/2018) sekira pukul 22.00 WIB malam.

Terpisah, pihak Polres Kepahiang saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan resmi dari keluarga korban dugaan malpraktek oleh pihak RSUD Kepahiang  yang mengakibatkan kepala bayi hingga terputus.[BEN]

Tidak ada komentar